Rabu, 16 November 2011

Ikterus pada bayi...berbahayakah?



Kuning pada bayi, atau biasa dikenal dengan istilah ikterus biasa terjadi pada bayi baru lahir. Hal ini terjadi karena beberapa sebab terutama adanya pemecahan sel-sel darah merah yang biasa terjadi pada bayi baru lahir dan belum matangnya fungsi hati. Warna kuning bisa muncul pada hari ke 2 kelahiran sampai 14 hari. Jika kuning muncul pada hari pertama kelahiran bisa dipastikan bayi dalam kondisi sakit karena kuning yang muncul pada hari pertama merupakan tanda patologis yang mengarah ke beberapa macam penyakit.



Derajat dari kuning juga bermacam-macam. Biasanya para dokter anak mengklasifikasikan berdasar panduan dari Kramer. Warna kuning biasanya tampak pertama kali di daerah kepala, kemudian leher, dada, perut, lengan dan tungkai dan yang terakhir di telapak kaki atau tangan serta bagian mata yang berwarna putih.



Jika kuning yang terjadi merupakan ikterus yang fisiologis (terjadi pada hari ke 2-14) maka ibu tidak perlu terlalu khawatir. Yang perlu dilakukan adalah melakukan monitor warna kuningnya, menambah ASI dan kontrol ke dokter anak terdekat. Jika warna kuning telah sampai pada dada atau perut, sebaiknya diperiksa laboratorium untuk mengetahui kadar bilirubin total dan direk/indirek. Bilirubin merupakan hasil pemecahan dari sel darah merah yang menyebabkan warna kuning jika menumpuk di permukaan kulit atau mata.



Dokter anak biasanya akan melakukan analisis dari hasil lab dan kondisi klinis anak. Jika dipandang perlu, dokter akan melakukan foto terapi (terapi sinar) dengan sinar ultraviolet untuk menurunkan kadar bilirubin yang terlalu tinggi.



Kadar bilirubin yang terlalu tinggi di dalam sirkulasi dapat menyebabkan kejang pada bayi jika tidak segera diturunkan karena akan meracuni otak. Selain kejang juga dapat menyebabkan kelainan yang mungkin akan muncul dalam jangka panjang terutama yang berkaitan dengan kelainan otak.

Jika Gempa Terjadi...

Jika Gempa Terjadi...

 

Beberapa waktu yang lalu, masyarakat Indonesia dikejutkan oleh berita dari CNN akan terjadinya gempa bumi di Indonesia akibat adanya pergeseran lempeng bumi di Australia dan menabrak lempeng bumi di Indonesia. Terlepas dari mana sumber ini di dapat dan apakah valid atau tidak, maka hal yang jauh lebih penting untuk kita persiapkan adalah bagaimana menghadapi gempa bumi jika benar-benar terjadi. Disadari atau tidak, letak geografis Indonesia memang berada di titik pertemuan tiga lempeng besar dunia yaitu lempeng Hindia-Australia, lempeng Eurasia dan lempeng Pasifik sehingga gempa bumi memang setiap hari dapat saja terjadi baik dalam skala kecil dan tidak dapat kita rasakan sampai skala sangat besar dan menghancurkan.
Banyak panduan menghadapi gempa yang telah dikeluarkan pemerintah maupun LSM. Tidak ada salahnya kita urai kembali pedoman tersebut untuk dapat kita pahami lebih dalam. Jika gempa benar-benar terjadi, beberapa hal di bawah ini harus kita lakukan:
1.Segera keluar dari bangunan
Jika gempa terjadi, hal yang paling penting untuk kita lakukan adalah segera keluar dari ruangan. Hanya saja kadang hal ini tidak bisa dilakukan karena beberapa hal misalnya gempa biasanya hanya terjadi dalam beberapa detik sampai menit dan kadang waktu yang pendek ini tidak cukup untuk berlari keluar ruangan, kadang kita berada di ruangan yang terletak di lantai atas atau bangunan yang luas sehingga pintu keluar sangat jauh dan memerlukan waktu beberapa menit untuk keluar. Jika ini terjadi, maka berlindung di dalam ruangan menjadi satu-satunya pilihan.
2.Berlindunglah di bawah perabotan yang strukturnya kuat.
Jika Anda tidak dapat segera keluar ruangan, segera berlindung di balik perabotan yang berbahan kuat. Meja besar dari kayu, bukan triplek, kadang dapat melindungi kita dari reruntuhan jika kita berlindung di kolong meja. Berdiri di ambang pintu terbuka kadang juga disarankan untuk mengurangi resiko terkena reruntuhan. Ingatlah untuk selalu melindungi kepala anda.
3.Jika Anda di luar bangunan, hindari bangunan tinggi
Bangunan yang tinggi kadang menjadi ancaman jiwa pada saat gempa terjadi, segera hindari bangunan yang tinggi, berlarilah ke tanah yang lapang atau ke tempat yang bangunannya relatif rendah.
4.Jongkoklah agar tidak berguling-guling
Jika Anda berada di tempat yang berupa tanjakan atau turunan
5.Jangan meloncat dari lantai atas
6.Jika berada di tempat ramai, jangan berebutan
7.Jika berada di dalam mobil, segera berhenti.

Hal-hal di atas penting untuk kita lakukan saat terjadi gempa bumi, nah untuk mempersiapkan diri kita dalam menghadapi gempa bumi, hal-hal berikut harus kita lakukan:
1.Periksalah struktur rumah Anda
2.Letakkan kunci pintu di tempat yang mudah dicapai
3.Persiapkan senter dan korek api
4.Jika di tempat umum, perhatikan pintu darurat
5.Persiapkan obat-obatan darurat di rumah
6.Ajaklah keluarga Anda berlatih
7.Bentuklah kelompok masyarakat untuk penanganan gempa bumi.

Selasa, 15 November 2011

Sistem Pelayanan Gawat Darurat

Dalam sebuah komunitas, sangat diperlukan suatu sistem layanan gawat darurat dalam bidang medis. Terutama di negara-negara yang memiliki risiko tinggi terjadinya bencana baik bencana karena manusia maupun alam seperti di Indonesia.
Menanggapi kebutuhan ini, dinas kesehatan Bantul Yogyakarta bersama dengan PMI, dinas pemadam kebakaran, kepolisian, puskesmas dan seluruh RS di Kabupaten Bantul hari ini meluncurkan layanan Bantul Emergency Service Support (BESS) 118, sebuah sistem terintegrasi yang akan merespon semua kejadian gawat darurat di Bantul dan sekitarnya bahkan tak menutup kemungkinan di seluruh dunia. Diharapkan sistem ini dapat ditiru oleh daerah-daerah lain di seluruh Indonesia.
Call centre BESS berada di kantor PMI Bantul dengan nomor yang bisa dihubungi yaitu 118. Jika anda memutar nomor ini, maka anda akan dihubungkan ke rumah sakit terdekat dengan lokasi anda sehingga pertolongan dapat dilakukan dengan segera.

Jumat, 11 November 2011

Jantung bocor karena VSD..apa itu?


Defek septum ventrikel adalah kelainan jantung bawaan dimana tidak terbentuk septum antara ventrikel jantung kiri dan kanan sehingga antara keduanya terdapat lubang (tunggal atau multiple) yang saling menghubungkan. Defek ini bisa muncul sebagai kelainan tunggal atau berdiri sendiri atau muncul bersama dengan malformasi kongenital kardial lainnya, misal: stenosis pulmonal, duktus arteriosus persisten, koarktasio aorta, tetralogi Fallot, transposisi arteri-arteri besar, atresia pulmonal dan lain-lain. Defek septum ventrikel adalah kelainan jantung kongenital yang paling sering ditemukan yaitu: 20-30% dari seluruh kasus kelainan jantung bawaan, 1,5-3,5 dari 1000 kelahiran hidup, frekuensi pada wanita 56% dibanding laki-laki 44%, sering dijumpai pada sindrom Down, kelainan tunggal dan kelainan jantung kongenital yang muncul bersama dengan VSD adalah 50% dari seluruh kasus kelainan jantung kongenital, insiden tertinggi pada prematur dengan kejadian 2-3 kali lebih sering dibanding bayi aterm.
Klasifikasi: Secara anatosmis septum ventrikel terdiri atas: 1)Septum ventrikel pars membranasea 2)Septum jalan masuk 3)Septum trabekular 3)Septum Infundibular.
Menurut ukuran, VSD dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 
  1. VSD kecil (diameter defek 0-3mm saat lahir) atau defek <1/3 diameter aorta
  2. VSD sedang ( diameter defek 3-5mm saat lahir), atau defek antara 1/3 – 2/3 diameter aorta
  3. VSD besar (diameter defek >5mm saat lahir), atau defek mendekati ukuran aorta
    Dari segi patofisiologi maupun klinis, VSD bisa dibagi menjadi 4 tipe yaitu:1)VSD kecil dengan tahanan pada arteri pulmonalis yang masih normal 2)VSD sedang dengan tahanan pada arteri pulmonalis masih normal 3) VSD besar dan sudah disertai hipertensi pulmonal yang dinamis, artinya hipertensi pulmonal karena bertambahnya volume darah pada arteri pulmonalis tetapi belum ada arteriosklerosis arteri pulmonalis 4)VSD besar dengan hipertensi pulmonal yang permanen karena pada kelainan ini sudah disertai arteriosklerosis arteri pulmonalis. 
    Kateterisasi jantung & Angiografi berguna untuk mengukur tekanan dan saturasi oksigen dari darah di ruang jantung dan mengukur besar shunt. Dengan injeksi kontras melalui kateter dapat diperoleh gambaran radiografis (Angiografi).
    Tindakan yang dapat dilakukan meliputi: Tindakan perbaikan yaitu penutupan defek VSD dengan menggunakan beberapa instrument, dengan menggunakan teknik transkateter. Instrument yang digunakan antara lain:Amplatzer dan Bard Clammshell Umbrella. Beberapa teknik bedah saat ini sudah berkembang sangat pesat. Pada defek yang kecil, defek ini dapat menutup sendiri. Penutupan VSD besar sebaiknya dilakukan secepat mungkin. Kemajuan teknik operasi telah memungkinkan penutupan dilakukan saat usia anak 4 bulan.

    *Disarikan dari berbagai sumber oleh Nurcholid Umam K, penghargaan kepada Prof. dr. A. Samik Wahab, Sp.AK sebagai narasumber utama.

Kamis, 10 November 2011

Aplasi sel darah merah


Pure red cell aplasia (Aplasi sel darah merah murni)
Oleh: Nurcholid Umam K

Pure red cell aplasia (PRCA) didefinisikan sebagai suatu kondisi dimana prekursor sel darah merah di sumsum tulang hampir tidak ada, sementara megakaryosit dan prekursor leukosit normal (Schick, 2009), sehingga individu yang terkena tidak dapat memproduksi sel darah merah atau eritrosit.. Pada 1922, Kaznelson menemukan dan menyadari hal ini sebagai suatu hal yang berbeda dari anemia aplastik. PRCA terdapat dalam beberapa bentuk, dan bentuk yang paling umum ada adalah kondisi yang dapat sembuh sendiri. PRCA yang didapat sering kronik dan berhubungan dengan penyakit yang mendasari seperti thymoma dan penyakit autoimun. Sebuah kasus PRCA kongenital pertama kali dideskripsikan oleh Joseph pada tahun 1936 dan oleh Diamond-Blackfan pada tahun 1938. PRCA kongenital adalah kelainan yang akan diderita seumur hidup dan berhubungan dengan abnormalitas fisik. Baik PRCA kongenital maupun yang didapat biasanya tidak respon dengan terapi.

Patofisiologi
Prekursor eritroid di sumsum tulang adalah target utama pada PRCA. Sebagai hasilnya, pasien dapat berkembang menjadi anemia normoblastik normokromik dan tidak adanya retikulosit yang tampak (Perdahl, 1994).
Jejas pada sel stem intra uterin diyakini merupakan etiologi dari sekitar 90% kasus kongenital PRCA (misalnya sindrom Diamond-Blackfan). Teori ini berdasar bukti bahwa PRCA kongenital sering berhubungan dengan abnormalitas fisik secara acak, sementara jarang merupakan kelainan familial atau berhubungan dengan abnormalitas kromosomal. Bagaimanapun juga, riwayat keluarga dengan PRCA telah terdeteksi pada sekitar 10% pasien dengan PRCA congenital (Da Costa, 2001).
Bentuk yang akut dan self limited biasanya merupakan akibat sekunder dari virus dan kegagalan perbaikan akibat obat (drug induce) pada sel-sel progenitor eritroid. Bentuk kronis yang didapat dari PRCA berhubungan dengan thymoma dan penyakit autoimun. Kerusakan pada progenitor eritroid atau sel prekursor muncul sebagai immune mediated dan T cell mediated. Pada keduanya baik akut maupun kronis yang didapat, sel yang terpengaruh adalah progenitor yang telah berdiferensiasi dari sel stem dan dapat mengekspresikan erythropoietin (EPO) reseptor. Kemudian, tidak seperti pada PRCA kongenital, sel stem biasanya bukan merupakan target pada PRCA akut dan didapat.
Yang menarik, PRCA dapat diinduksi oleh FeLV-C/Sarma, sebuah retrovirus pada kucing, dan telah diajukan sebagai system model untuk mempelajari PRCA. Sebagai tambahan, anjing dapat mengalami PRCA yang merespon terapi imunosupresi (Schick, 2009).
Frekuensi
PRCA akut transient merupakan bentuk yang paling umum. Bagaimanapun juga, frekuensinya masih belum dijelaskan dengan baik karena PRCA yang disebabkan drug induce dan virus biasanya self limited dan biasanya pasien tidak mencari pengobatan. Bentuk yang didapat dan berhubungan dengan thymoma dan penyakit autoimun relative jarang. Sejak 1936, ketika kelainan ini dilaporkan, ratusan kasus PRCA kongenital telah dilaporkan (Bunn, 2002).
Terapi
Keputusan untuk memondokkan pasien atau rawat jalan tergantung dari keadaan klinis dan kemampuan untuk melakukan evaluasi, perawatan dan transfusi di luar rumah sakit. Sampai saat ini jenis terapi yang dapat digunakan masih belum memberikan hasil yang memuaskan. PRCA yang self limited tidak memerlukan terapi karena akan membaik sendiri sementara yang kronis dan tidak membaik biasanya membutuhkan transfusi dan berbagai macam obat tergantung dari penyebabnya. Kortikosteroid, IVIG, obat-obat imunosupresif dan sitotoksik, plasmapharesis serta transplantasi stem cell dapat menjadi alternatif terapi.

DAFTAR PUSTAKA
Bunn HF. Drug-induced autoimmune red-cell aplasia. N Engl J Med. Feb 14 2002;346(7):522-3. 
Casadevall N, Nataf J, Viron B, et al. Pure red-cell aplasia and antierythropoietin antibodies in patients treated with recombinant erythropoietin. N Engl J Med. Feb 14 2002;346(7):469-75. 
Charles RJ, Sabo KM, Kidd PG, Abkowitz JL. The pathophysiology of pure red cell aplasia: implications for therapy. Blood. Jun 1 1996;87(11):4831-8. 
Da Costa L, Willig TN, Fixler J, Mohandas N, Tchernia G. Diamond-Blackfan anemia. Curr Opin Pediatr. 2001;13:10–15
D'Arena G, Vigliotti ML, Dell'Olio M, et al. Rituximab to treat chronic lymphoproliferative disorder-associated pure red cell aplasia. Eur J Haematol. Mar 2009;82(3):235-9
Dessypris EN. Aplastic anemia and pure red cell aplasia. Curr Opin Hematol. Mar 1994;1(2):157-61.
El-Beshlawy, A, Ibrahim, I.Y, Rizk, S, Eid, K. Study of 22 Egyptian Patients With Diamond-Blackfan Anemia, Corticosteroids, and Cyclosporin Therapy Results. Pediatrics 2002;110;e44
eMedicine.medscape.com
Erslev AJ, Soltan A. Pure red-cell aplasia: a review. Blood Rev. Mar 1996;10(1):20-8. 
Freedman MH. Pure red cell aplasia in childhood and adolescence: pathogenesis and approaches to diagnosis. Br J Haematol. Oct 1993;85(2):246-53. 
Helbig G, Stella-Holowiecka B, Krawczyk-Kulis M, et al. Successful treatment of pure red cell aplasia with repeated, low doses of rituximab in two patients after ABO-incompatible allogeneic haematopoietic stem cell transplantation for acute myeloid leukaemia. Haematologica. Nov 2005;90 Suppl:ECR33.
Herbert KE, Prince HM, Westerman DA. Pure red-cell aplasia due to parvovirus B19 infection in a patient treated with alemtuzumab. Blood. Feb 15 2003;101(4):1654
Hirokawa M, Sawada K, Fujishima N, et al. Acquired pure red cell aplasia associated with malignant lymphomas: a nationwide cohort study in Japan for the PRCA Collaborative Study Group. Am J Hematol. Mar 2009;84(3):144-8. 
Musso M, Porretto F, Crescimanno A, et al. Donor lymphocyte infusions for refractory pure red cell aplasia relapsing after both autologous and nonmyeloablative allogeneic peripheral stem cell transplantation. Bone Marrow Transplant. Apr 2004;33(7):769-71
Nathan DG, Sieff CA. Pure red-cell aplasia. N Engl J Med. Jun 24 1999;340(25):2004; discussion 2005. 
Perdahl EB, Naprstek BL, Wallance WC, Lipton JM. Erythroid failure in Diamond-Blackfan anemia is characterized by apoptosis. Blood. 1994;83: 645–650
Rabitsch W, Knobl P, Greinix H, et al. Removal of persisting isohaemagglutinins with Ig-Therasorb immunoadsorption after major ABO-incompatible non-myeloablative allogeneic haematopoietic stem cell transplantation. Nephrol Dial Transplant. Nov 2003;18(11):2405-8
Sawada K, Hirokawa M, Fujishima N. Diagnosis and management of acquired pure red cell aplasia. Hematol Oncol Clin North Am. Apr 2009;23(2):249-59. 
Thompson DF, Gales MA. Drug-induced pure red cell aplasia. Pharmacotherapy. Nov-Dec 1996;16(6):1002-8. 
Wong KF, Kwong YL. Pure red cell aplasia: its clinical association and treatment. Blood. Oct 15 1996;88(8):3244-5. 
Zecca M, De Stefano P, Nobili B, Locatelli F. Anti-CD20 monoclonal antibody for the treatment of severe, immune-mediated, pure red cell aplasia and hemolytic anemia. Blood. Jun 15 2001;97(12):3995-7. 
Zimmer J, Regele D, de la Salle H. Pure red-cell aplasia. N Engl J Med. Jun 24 1999;340(25):2004-5
  

Rabu, 09 November 2011

Mencegah Kematian Akibat Gawat Darurat di Rumah


oleh: Nurcholid Umam K

Dalam kehidupan sehari-hari di rumah, kita tak pernah lepas dari ancaman bahaya yang dapat menyebabkan kejadian gawat darurat yang mungkin berakibat fatal di keluarga kita. Kejadian-kejadian yang sering terjadi misalnya kejadian kecelakaan rumah tangga seperti tersedak ketika makan, keracunan makanan, tertimpa benda, teriris pisau, atau terjatuh dari tangga. Bisa juga kejadian gawat darurat akibat penyakit yang diderita anggota keluarga kita seperti tiba-tiba kejang akibat demam, tidak sadar karena stroke, serangan jantung atau serangan asma.
Sebenarnya jika kita telah mempersiapkan semuanya di rumah, maka kematian akibat gawat darurat di rumah bisa kita kurangi. Apa saja yang kita perlukan untuk persiapan tersebut di rumah?
1. Sediakan kotak obat di rumah
Kotak obat biasanya berwarna putih dengan tanda palang merah di bagian luarnya dengan maksud mudah dikenali oleh siapapun bahwa di dalam kotak tersebut tersimpan alat-alat medis sederhana dan obat-obatan yang bermanfaat dalam keadaan gawat darurat. Kotak bisa dibeli di apotek atau bisa dibuat sendiri dengan ukuran yang diinginkan. Tempatkan pada tempat yang tidak terjangkau anak-anak atau selalu dikunci agar anak-anak tidak meminum obat atau secara tidak sengaja memakai alat untuk mainan. Letakkan kotak jauh dari sinar matahari langsung.
2. Sediakan obat-obat gawat darurat/emergency
Masukkan dalam kotak tadi obat-obat yang dibutuhkan keluarga kita dalam keadaan gawat darurat seperti :
• Larutan antiseptik
• Alkohol 70% untuk membersihkan alat atau untuk kompres demam
• Obat asma inhaler dan tablet
• Larutan Oralit
• Obat jantung
• Obat diabetes melitus
• Obat antasida untuk penyakit maag
• Obat demam
• Obat anti nyeri
• Obat anti kejang untuk anak yang cara pakainya dimasukkan lewat anus, konsultasilah dengan dokter untuk mengetahui cara pemakaian obat ini
• Minyak kayu putih
• Salep anti nyeri otot
• Salep luka bakar
• Tetes mata
Obat-obat yang disimpan ini harus dalam plastik atau wadah tertutup rapat sehingga tidak rusak karena udara atau jamur. Obat sirup yang telah dibuka sebaiknya tidak disimpan lebih dari 2 minggu karena pasti telah rusak dan hilang khasiatnya. Jangan simpan obat antibiotika di rumah karena pemakaian antibiotik harus atas resep dokter.
3. Sediakan alat-alat medis sederhana
Alat – alat yang dapat bermanfaat dalam keadan gawat darurat adalah :
• Plester luka
• Plester biasa untuk merekatkan kassa
• Kain kassa steril dan yang tidak steril
• Kapas steril dan yang tidak steril
• Kain verban mitella ukuran sedang dan besar untuk pertolongan pertama patah tulang
• Gunting kecil untuk memotong kassa atau plester
• Alat pembersih telinga
• Termometer suhu badan
• Spatel tongue (bilah kayu tipis untuk mencegah lidah tergigit ketika anak mengalami kejang)

4. Sediakan buku petunjuk gawat darurat
Buku petunjuk gawat darurat yang dimaksud adalah buku tentang cara menggunakan obat dan alat-alat tersebut di atas, misalnya cara menggunakan obat anti kejang, atau cara membuat larutan oralit. Jika anda tidak mendapatkannya di toko buku, maka tulislah sendiri setelah konsultasi dengan dokter. Tulis dengan tulisan yang jelas dan bahasa yang sederhana karena bisa saja pembantu atau sopir kita yang ada di rumah ketika terjadi kejadian gawat darurat.
5. Sediakan buku-buku bacaan sederhana
Belilah buku-buku bacaan sederhana yang dapat dicerna seluruh anggota keluarga seperti buku cara mengatasi diare di rumah, atau buku tentang mengatasi anak demam dan kejang di rumah. Buatlah diskusi sederhana dengan seluruh anggota keluarga sambil bersantai di hari Minggu. Jika sempat, berlatihlah bersama cara mengatasi keadaan gawat darurat.
6. Singkirkan sumber bahaya dari rumah
Terminal listrik (stop kontak) yang letaknya terlalu di bawah sebaiknya diplester jika ada anak yang mulai belajar merangkak atau berjalan. Jangan letakkan pisau, gunting dan alat-alat tajam lainnya sembarangan. Hati-hati menyimpan korek api dan puntung rokok di rumah. Singkirkan benda-benda kecil yang mungkin tertelan anak kita. Waspada dengan air panas dan benda berat seperti setrika, radio, buku tebal dan sebagainya.
7. Siapkan alat komunikasi
Selalu siapkan telepon baik telepon rumah maupun telepon selular untuk situasi darurat. Catat nomor telpon dokter terdekat, rumah sakit terdekat, kantor polisi terdekat, kantor pemadam kebakaran terdekat, layanan taksi dan nomor telepon saudara atau tetangga yang bisa dihubungi dalam keadaan darurat. Tempelkan nomor-nomor ini dekat pesawat telepon.
8. Siapkan transportasi
Jika anda punya mobil atau motor, itu akan sangat membantu sekali untuk segera membawa keluarga kita ke RS, tapi jika anda tidak mempunyai kendaraan di rumah, pastikan anda mengenal angkutan umum yang bisa anda panggil sewaktu-waktu seperti taksi atau becak, beramah-tamahlah dengan tetangga kita yang punya kendaraan agar sewaktu-waktu kita bisa meminjam motor atau mobilnya.
9. Selalu kontak dengan dokter keluarga
Idealnya setiap keluarga punya dokter keluarga sendiri sehingga dapat berkonsultasi setiap saat.

Demikian tadi hal-hal yang dapat kita persiapkan untuk dapat mencegah kematian akibat kejadian gawat darurat yang tidak kita inginkan di rumah.

HFMD atau Flu Singapura atau PTKM

 
PENYEBAB
HFMD atau dikenal juga dengan sebutan PTKM (Penyakit Tangan, Kaki dan Mulut) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus RNA yang masuk dalam family Picornaviridae , genus Enterovirus, terutama virus Coxsackie Grup A, khususnya tipe A16. Di dalam famili Picornaviridae , terbagi menjadi genus Enterovirus dan Rhinovirus. Di dalam genus Enterovirus, terdiri dari Poliovirus, tipe 1-3; Coxsackievirus kelompok A, tipe 1-24 (tidak ada tipe 23); Coxsackievirus kelompok B, tipe 1-6; Echovirus, tipe 1-34 (tidak ada tipe 10 dan tipe 28); dan Enterovirus, tipe 68-71. Enterovirus adalah penghuni sementara saluran pencernaan manusia dan dapat diisolasi dari tenggorokan atau usus bawah. Enterovirus yang bersifat sitopatogenik (Poliovirus, Echovirus, dan beberapa Coxsackievirus), pertumbuhannya dapat segera terjadi pada suhu 36 o C sampai 37 o C dalam biakan primer sel ginjal manusia dan monyet. Coxsackievirus yang termasuk dalam genus Enterovirus, terbagi menjadi kelompok A dan B. Coxsackievirus kelompok A serotipe tertentu menyebabkan penyakit herpangina; Penyakit Tangan, Kaki, dan Mulut (PTKM); dan konjungtivitas hemoragik akut. Coxsackievirus kelompok B dapat menyebabkan penyakit pleurodinia, miokarditis, perikarditis, dan meningoensefalitis. Penyebab HFMD yang paling sering pada pasien rawat jalan adalah Coxsackievirus A16, sedangkan yang memerlukan perawatan karena keadaannya lebih berat atau timbul komplikasi sampai menyebabkan pasien meninggal disebabkan oleh Enterovirus 71.

Virus yang termasuk genus Enterovirus, menular lewat mulut atau tenggorokan. Virus menular pada jaringan mukosal dari tenggorokan, usus, atau keduanya, akhirnya masuk ke dalam aliran darah dan meningkatkan akses ke dalam sel dan menetapkan target organ tubuh, misalnya sumsum tulang belakang, miokardium, dan kulit. Virus umumnya berada di dalam tenggorokan selama 1 minggu pertama dari atau saat sakit dan terdapat pada feses dari 1-4 minggu setelah serangan penyakit; saat itu virus tersebut sudah dapat diisolasi dari urat saraf tulang belakang, otak, hati, dan pada kulit yang luka.
EPIDEMIOLOGI
Penyakit Tangan, Kaki, dan Mulut (PTKM) yang disebabkan oleh Coxsackievirus A16 ini, sangat menular dan sering terjadi pada musim panas. PTKM adalah penyakit yang sering terjadi pada kelompok masyarakat yang berpenduduk padat dan umumnya menyerang anak-anak berusia antara 2 minggu sampai 5 tahun (kadang sampai 10 tahun). Orang dewasa jarang menderita penyakit tersebut karena daya tahan tubuhnya lebih kuat, walau kadang orang dewasa bisa juga terserang penyakit ini. Penularannya melalui jalur fekal-pral (pencernaan) dan saluran pernapasan, yaitu dari droplet (butiran ludah), pilek, air liur, tinja, cairan vesikel (kelainan kulit berupa gelembung kecil berisi cairan) atau ekskreta. Penularan kontak tidak langsung melalui barang, handuk, baju, peralatan makanan, dan mainan yang terkontaminasi oleh sekresi itu. Tidak ada vektor tetapi ada pembawa (“carrier”) seperti lalat dan kecoa. Kontak dalam keluarga merupakan sumber utama infeksi Coxsackievirus A16 ini. Begitu virus sudah masuk dalam keluarga, semua orang yang rentan dalam keluarga tersebut biasanya terkena infeksi, meskipun tidak semuanya memiliki gejala klinis yang nyata. Penyakit ini memberi imunitas spesifik, namun anak dapat terkena PTKM lagi oleh virus strain Enterovirus lainnya. Masa Inkubasi Coxsackievirus A16 ini adalah 2 – 5 hari.
MANIFESTASI KLINIS


Masa prodromal ditandai dengan panas subfebris, anoreksia, malaise dan nyeri tenggorokan yang timbul 1-2 hari sebelum timbul enantem. Enantem adalah manifestasi yang paling sering pada PTKM. Lesi dimulai dengan vesikel yang cepat menjadi ulkus dengan dasar eritem, ukuran 4-8 mm yang kemudian menjadi krusta, terdapat pada mukosa bukal dan lidah serta dapat menyebar sampai palatum uvula dan pilar anterior tonsil. Eksantema tampak sebagai vesiko pustul berwarna putih keabu-abuan, berukuran 3-7 mm terdapat pada lengan dan kaki, pada permukaan dorsal atau lateral, pada anak sering juga terdapat di bokong. Lesi dapat berulang beberapa minggu setelah infeksi, jarang menjadi bula dan biasanya asimptomatik, dapat terjadi rasa gatal atau nyeri pada lesi. Lesi menghilang tanpa bekas.
GEJALA
Mula-mula demam tinggi 2-3 hari, diikuti sakit leher (faringitis), tidak ada nafsu makan, pilek, gejala seperti flu pada umumnya yang tak mematikan. Timbul vesikel yang kemudian pecah, ada 3-10 ulkus di mulut seperti sariawan (lidah, gusi, pipi sebelah dalam) terasa nyeri sehingga sukar untuk menelan. Bersamaan dengan itu timbul rash/ruam atau vesikel (lepuh kemerahan/blister yang kecil dan rata), papulovesikel yang tidak gatal ditelapak tangan dan kaki. Kadang-kadang rash/ruam (makulopapel) ada dibokong. Penyakit ini umumnya akan membaik sendiri dalam 7-10 hari, dan tidak perlu dirawat di rumah sakit.
PENGOBATAN
1. Istirahat yang cukup
2. Pengobatan spesifik tidak ada, jadi hanya diberikan secara simptomatik saja berdasarkan keadaan klinis yang ada
3. Dapat diberikan:
Immunoglobulin IV (IGIV), pada pasien imunokompromis atau neonatus
Extracorporeal membrane oxygenation.

Pengobatan simptomatik:
· Antiseptik di daerah mulut
· Analgesik, misalnya parasetamol
· Cairan cukup untuk dehidrasi yang disebabkan sulit minum karena demam
· Pengobatan suportif lainnya (misalnya gizi)

Penyakit ini adalah “self limiting diseases”, yaitu dapat sembuh dengan sendirinya, dalam 7-10 hari, pasien perlu istirahat karena daya tahan tubuh menurun. Pasien yang dirawat adalah yang dengan gejala berat dan komplikasi tersebut diatas. Anak yang menderita penyakit ini harus tetap mandi, namun ketika menggosok tubuh dengan sabun harus perlahan agar bintil berairnya tidak pecah. Bila demam penderita sangat tinggi, dapat dibantu dengan kompres dan obat penurun panas. Jika bagian kulit yang terdapat ruam dan bintil berair terasa gatal, dapat ditaburi dengan bedak pengurang rasa gatal. Bintil yang pecah dapat diberi salep antibiotik untuk mencegah menyebarnya infeksi. Pasien yang tidak mau makan dan minum, tubuhnya akan menjadi kekurangan cairan (dehidrasi), sehingga rentan terhadap infeksi yang lebih berat. Untuk pasien seperti itu, maka perlu dirawat di rumah sakit agar mendapat terapi cairan yang cukup. Dalam jumlah kecil, juga terdapat pasien yang mengalami komplikasi yang cukup berat yaitu ensefalitis (radang selaput otak). Pasien HFMD dengan ensefalitis memiliki gejala demam yang terus menerus tinggi dan hilang kesadaran. Bila seperti itu, maka harus segera dibawa ke pusat pelayanan kesehatan terdekat agar pasien bisa mendapatkan perawatan yang memadai dan intensif.
PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT
Penyakit ini sering terjadi pada masyarakat dengan sanitasi yang kurang baik. Pencegahan penyakit adalah dengan menghilangkan kekumuhan dan kepadatan lingkungan; kebersihan (Higiene dan Sanitasi) lingkungan maupun perorangan. Cara yang paling gampang dilakukan adalah misalnya membiasakan selalu cuci tangan, khususnya sehabis berdekatan dengan penderita, desinfeksi peralatan makanan, mainan, handuk yang memungkinkan terkontaminasi. Selalu waspada dan segera berobat apabila anak tidak mau makan-minum, muntah terus-menerus dan selalu mengantuk tapi anak sukar dibangunkan. Anak yang terserang penyakit ini bisa dipertinggi daya tahan tubuhnya dengan tetap makan secara teratur, dengan gizi yang baik, makanan hendaknya cukup mengandung protein dan kalori. Dianjurkan minum sebanyak mungkin, terutama sari buah segar, sekaligus untuk mencukupi kebutuhan vitamin dan mineral anak yang terserang penyakit ini, sebaiknya sari buah yang diberikan berupa jus buah, seperti jus jambu, jeruk, mangga atau apel. Bila perlu anak tidak bersekolah selama satu minggu setelah timbul rash sampai panas hilang. Pasien sebenarnya tak perlu diasingkan karena ekskresi virus tetap berlangsung beberapa minggu setelah gejala hilang, yang penting menjaga kebersihan perorangan. Di Rumah sakit, “Universal Precaution ” harus dilaksanakan. Penyakit ini belum dapat dicegah dengan vaksin (Imunisasi).
*Disarikan dari berbagai sumber oleh Nurcholid Umam K