Rabu, 07 Desember 2011

Bagaimana mencuci tangan yang benar?

Mencuci tangan merupakan kegiatan yang sederhana, bahkan sejak kecil kita telah diajarkan untuk selalu mencuci tangan sebelum makan atau sebelum tidur. Kegiatan yang sederhana ini ternyata berdampak sangat besar terhadap kesehatan kita. Menurut penelitian WHO, dengan mencuci tangan dengan benar dapat mengurangi risiko infeksi nosokomial di rumah sakit sampailebih dari 80%.
Secara umum infeksi nosokomial adalah infeksi yang didapatkan penderita selama dirawat dirumah sakit. Infeksi nosokomial sukar diatasi karena sebagai penyebabnya adalah mikro organisme / bakteri yang sudah resisten terhadap anti biotika. Bila terjadi infeksi nosokomial, maka akan terjadi penderitaan yang berpanjangan serta pemborosan waktu serta pengeluaran biaya yang bertambah tinggi kadang-kadang kualitas hidup penderita akan menurun. Infeksi nosokomial disamping berbahaya bagi penderita, juga berbahaya bagi lingkungan baik selama dirawat dirumah sakit ataupun diluar rumah sakit setelah berobat jalan. Dengan pengendalian infeksi nosokomial akan menghembat biaya dan waktu
yang terbuang. Dinegara yang sudah maju masalah ini telah diangkat menjadi masalah nasional,sehingga bila angka infeksi nosokomial disuatu rumah sakit tinggi, maka izin operasionalnya dipertimbangkan untuk dicabut oleh instansi yang berwenang.
Untuk kesehatan pribadi, mencuci tangan juga sangat bermanfaat dalam mencegah penyakit yang ditularkan lewat hygiene dan sanitasi yang baik. Penyakit-penyakit yang dapat dicegah misalnya diare atau muntah berak, influenza dan penyakit menular lainnya
Bagaimana cara mencuci tangan yang benar?
Mencuci tangan yang baik dan benar harus sesuai kaidah kesehatan. Berikut kami tampilkan grafis tentang mencuci tangan yang baik.

Selasa, 06 Desember 2011

Diare


Diare merupakan permasalahan utama penyebab sakit dan kematian di negara-negara berkembang, termasuk di Indonesia. Sekitar 42% bayi dan anak usia 0-12 bulan meninggal karena diare dan 29% penyebab kematian pada anak umur 1-4 tahun. Menurut banyak penelitian, virus merupakan penyebab utama diare. Virus yang berperan pada infeksi ini adalah Rotavirus. Karena sebagian besar penyebab diare adalah virus, maka pemakaian antibiotik pada anak diare tidak direkomendasikan. Obat yang direkomendasikan untuk diare adalah pemberian zinc 10-20mg per hari (tergantung umur), cairan rehidrasi oral atau oralit dan pre/probiotik.
Pemberian antibiotik hanya diindikasikan pada disentri, yaitu diare dengan darah yang sebagian besar disebabkan oleh bakteri Shigella.
Secara umum terdapat 5 pedoman tata laksana diare yang disebut dengan 5 lintas tata laksana diare yang dikeluarkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yaitu:
1. Rehidrasi. Usaha ini meliputi pemberian cairan minum berupa oralit untuk mencagah terjadinya dehidrasi.
2. Dukungan nutrisi. Anak yang diare tetap melanjutkan makan seperti biasa, termasuk pemberian ASI atau cairan lain seperti susu, kuah sop, sari buah atau minuman lain.
3. Suplementasi zinc seperti telah dijelaskan di atas.
4. Antibiotik selektif seperti yang telah disinggung di atas.
5. Edukasi. Usaha ini termasuk memberikan edukasi kepada ibu untuk terus memberikan cairan oralit semau anak, mengenali tanda-tanda dehidrasi dan kegawatan lain serta 5 lintas tata laksana diare.

*Disarikan dari berbagai sumber oleh Nurcholid Umam K

Senin, 05 Desember 2011

Berapa kali normalnya bayi BAB setiap hari?

oleh: Nurcholid Umam K

Kadang-kadang seorang ibu dibuat khawatir dengan kebiasaan Buang Air Besar (BAB) anaknya. beberapa bayi yang mendapat ASI dalam sehari bisa BAB 4-6 kali dengan tinja yang lembek bahkan kadang cair. Ada juga bayi lain yang kebetulan sudah mengkonsumsi susu formula dan BAB-nya menjadi jarang, kadang sampai 2-3 hari baru BAB dengan tinja yang keras bahkan sampai anak kesakitan. Ikatan Dokter Anak Indonesia telah memformulasikan frekuensi BAB yang normal pada bayi atau anak seperti tabel berikut.

Tabel di atas menunjukkan bahwa untuk bayi usia 0-3 bulan yang mendapat ASI saja, akan mengalami defekasi atau BAB 5-40 kali dalam seminggu, itu artinya 0,7-6 kali perhari masih termasuk normal, sedangkan rata-rata bayi akan BAB 2,9 kali (sekitar 3 kali) dalam sehari.
Sedangkan bayi umur 0-3 bulan yang mendapat susu formula akan mengalami BAB lebih jarang yaitu 5-28 kali perminggu atau 0,7-4 kali perhari dengan rata-rata 2 kali perhari.
Sedangkan anak umur 6-12 bulan secara umum sudah mendapat makanan selain ASI dan akan mengalami BAB normal 5-28 kali perminggu atau 0,7-4 kali perhari dengan rata-rata 1,8 kali perhari (atau sekitar 2 kali perhari).
Anak umur 1-3 tahun akan lebih jarang lagi yakni 4-21 kali perminggu atau 0,6-3 kali perhari dengan rata-rata 1,4 kali, sedangkan anak umur lebih dari 3 tahun akan BAB 3-14 kali perminggu dengan rata-rata 1 kali perhari. Nah, ibu-ibu sudah jelaskan? Jadi apakah BAB anak Anda normal?

Minggu, 04 Desember 2011

Perbedaan vaksin hidup dan mati

oleh : Nurcholid Umam K
Perbedaan karakteristik live attenuated vaccine (vaksin hidup yang dilemahkan) dan Inactivated vaccine (vaksin inaktif atau telah dimatikan)

Live attenuated vaccine
Inactivated vaccine
  • Vaksin hidup yang dibuat dari bakteri atau virus yang sudah dilemahkan daya virulensinya dengan cara kultur dan perlakuan yang berulang-ulang, namun masih mampu menimbulkan reaksi imunologi yang mirip dengan infeksi alamiah
Sifat vaksin :
  • Vaksin dapat tumbuh dan berkembang biak sampai menimbulkan respon imun sehingga diberikan dalam bentuk dosis kecil antigen
  • Respon imun yang diberikan mirip dengan infeksi alamiah, tidak perlu dosis berganda
  • Dipengaruhi oleh circulating antibody sehingga ada efek netralisasi jika waktu pemberiannya tidak tepat.
  • Vaksin virus hidup dapat bermutasi menjadi bentuk patogenik
  • Dapat menimbulkan penyakit yang serupa dengan infeksi alamiah
  • Vaksin dibuat dari bakteri atau virus yang dimatikan dengan zat kimia (formaldehid) atau dengan pemanasan, dapat berupa seluruh bagian dari bakteri atau virus, atau bagian dari bakteri atau virus atau toksoidnya saja.
  • Disebut juga killed vaccine
Sifat vaksin :
  • Vaksin tidak dapat hidup sehingga seluruh dosis antigen dapat dimasukkan dalam bentuk antigen
  • Respon imun yang timbul sebagian besar adalah humoral dan hanya sedikit atau tidak menimbulkan imunitas seluler
  • Titer antibodi dapat menurun setelah beberapa waktu sehingga diperlukan dosis ulangan, dosis pertama tidak menghasilkan imunitas protektif tetapi hanya memacu dan menyiapkan system imun, respon imunprotektif baru barumuncul setelah dosis kedua dan ketiga
  • Tidak dipengaruhi oleh circulating antibody
  • Vaksin tidak dapat bermutasi menjadi bentuk patogenik
  • Tidak dapat menimbulkan penyakit yang serupa dengan infeksi alamiah

Perbedaan Imunisasi antara Indonesia dan Amerika Serikat

oleh: Nurcholid Umam K

VS





Perbedaan program vaksinasi adalah konsekuensi perbedaan epidemiologi penyakit, pola sosial dan gaya hidup, kebijakan kesehatan dari pemerintah serta ketersediaan vaksin.

Jenis vaksin
Indonesia 2010
(rekomendasi IDAI 2008/2010 http://www.idai.or.id/)
USA 2010
(Rekomendasi: Advisory Committee on Immunization Practices (http://www.cdc.gov/vaccines/recs/acip), the American Academy of Pediatrics (http://www.aap.org), and the American Academy of Family Physicians (http://www.aafp.org))
BCG
  • Diberikan segera setelah lahir sampai dengan umur 3 bulan
  • Tidak diberi vaksin BCG
Campak
  • Campak diberi pada usia 9 bulan
  • Vaksin ulangan pada umur 6 tahun
  • Selain itu juga diberikan dalam bentuk vaksin MMR pada usia 15 bulan
  • Diberikan dalam bentuk MMR (measles, mumps, rubella) diberi pada usia 12 – 15 bulan
  • Vaksin MMR ulangan pada usia 4 – 6 tahun
Varisela
  • Varisela dianjurkan diberi di atas 5 tahun
  • Varisela dianjurkan diberi di atas 1 tahun
Hepatitis A
  • Hepatitis A dianjurkan diberikan pada usia ≥2 tahun
  • Hepatitis A mulai diberikan pada usia di atas 1 tahun (12-15 bulan) dan diberi vaksin ulangan pada usia 4-6 tahun
Rotavirus
  • Belum diberikan
  • Diberikan, pada umur 2, 4, 6 bulan
Human Papillomavirus
  • Vaksin HPV mulai diberikan sejak usia 10 tahun
  • Diberikan pada umur 11-12 tahun (minimal umur 9 tahun)
Polio
  • OPV 0 diberikan pada kunjungan pertama di tempat kelahiran bayi (bagi daerah yang masih menggunakan OPV)
  • Tidak ada pemberian OPV 0 karena vaksin polio yang digunakan semuanya adalah IPV

Jumat, 02 Desember 2011

Kapan Imunisasi Tidak Boleh Diberikan ?

 
  1. Prinsipnya semua imunisasi tidak diberikan pada anak yang sakit berat.
  2. BCG, tidak diberikan pada bayi yang menderita sakit kulit di tempat penyuntikan, sedang sakit TBC dan panas tinggi.
  3. DPT, tidak diberikan bila bayi sedang sakit parah, panas tinggi dan atau kejang. Riwayat pemberian imunisasi DPT dengan efek samping berupa panas tinggi sampai kejang merupakan kontraindikasi imunisasi DPT selanjutnya.
  4. Polio oral tidak diberikan bila diare dan sakit parah
  5. Campak , tidak diberikan bila bayi sakit berat dan panas tinggi.

Imunisasi HPV


Vaksin Human Papillomavirus (HPV)

Virus HPV secara umum menginfeksi lapisan kulit yaitu pada keratinosit dan membran mukosa. Sebagian besar virus jenis ini (ada lebih dari 200 virus) tidak menimbulkan gejala, tetapi sebagian akan dapat menimbulkan gejala berupa kutil. Kutil ini dapat muncul dimana saja. Virus ini juga telah terbukti memiliki hubungan dengan munculnya kanker cervix, vulva, vagina, dan anus pada wanita dan sebagian lain kanker pada anus dan penis laki-laki. HPV Vaksin ini diberikan pada usia > 10 tahun berisi virus HPV tipe 16 dan 18 yang menjadi penyebab utama kanker cervix. Imunisasi diulang 3 kali.